Friday, 11 March 2016

Kenangan Indah




Klentinggg,.....(suara pulpen yang jatuh tidak jauh dari meja itu)

Tak ada satu pun yang kedengaran jika pulpen tersebut jatuh. Suasana ruangan yang begitu gemercik, ada yang berteriak memanggil nama seseorang, ada juga yang sedang mengeluarkan bakat yang dia punya (nyanyi), dan ada pula gerombolan yang sedang berbincang-bincang atau bahasa alay nya yaitu Gosip. Aku, aku adalah seorang anak lelaki yang duduk tepat di sudut paling belakang. Biasalah, anak lelaki pada masa sekolah dulu kan selalu duduk di belakang. Kalok ada yang duduk di depan berarti dia agak sedikit lugu, atau bisa jadi dia pintar. Hari itu guru yang sedang mengajar kami tidak bisa hadir dikarenakan sedang berhalangan sakit. Kami di beri tugas oleh guru tersebut melalui staf Tata Usaha yang ada disekolah kami, biasalah nama nya juga anak sekolahan kalok sewaktu guru itu enggak hadir apa lagi guru tersebut sangat killer, yah pada kesenangan lah semua siswa tersebut. Kebetulan pada waktu itu aku sebagai ketua kelas di kelas yang kami duduki pada saat itu (kelas 2 SMA lah).  

Tugasku adalah mentertibkan siswa disini, tapi karena di kelas ku tersebut semua siswanya enggak ada yang bisa di tertibkan. Maka aku pun jadi ikut-ikutan tuh dengan mereka, bermain bersama, tertawa bersama, dan nongkrong bersama. Mereka semua pada setuju jika aku menjadi ketua kelas. Setiap pergantian ketua kelas tiap tahunya, aku selalu terpilih dan dipilih oleh mereka semua. Karena mereka tau, kalau aku itu tidak terlalu perduli sama mereka jika mereka itu bermain di ruangan, ngobrol, saling ejek dan yang lainya lah. Jadi buat para ketua kelas dimanapun berada, jangan contoh seperti aku yah. Aku tidak patut di tiru nih (heheheh).
Tapi, walaupun aku sangat tidak perduli dengan mereka dan juga duduk di paling belakang tapi aku termasuk daftar siswa yang masuk dalam sepuluh besar teratas loh di kelas(termasuk pintarlah hihihi). Banyak para wanita yang ingin belajar bersamaku, apalagi pada saat ada tugas kelompok. Mereka semua pada berbondong-bondong menuju kearah ku. Oh iyah, sebut saja namaku itu Denis. Denis, tolong ajarin aku donk tugas matematika kemarin itu, aku gak ngerti nis”. Ujar cewek di bangku sebelah kananku nomor 3 dari belakang. “oh, iyah ran. Entar aku ajarin (namanya Rani)”. Ada satu cewek yang aku taksir dari aku duduk di bangku kelas 1 sampai sekarang ini, aku sangat menyukai sifatnya yang agak-agak pendiem gimana gitu. 
Dia duduk di bangku paling depan tepat di barisan dimana aku duduk. Namanya adalah Indah, dia juga termasuk daftar siswa yang berprestasi di kelas ku pada waktu itu. Semua mata pelajaran dia bisa menyelesaikanya terkecuali Matematika, dia kurang mengerti dengan yang namanya Hitung-hitungan. Tapi, dia tidak pernah mau minta di ajarin atau bertanya kepadaku. Kenapa yah kira-kira? Apa dia terlalu sombong sehingga dia ingin menutupi kelemahanya itu, atau bisa jadi dia malu mau bertanya denganku. Pada saat ada tugas convertation/dialog pada pelajaran bahasa inggris, kebetulan banget aku itu sekelompok dengannya. Biarpun aku itu pinter tapi yang namanya pelajaran bahasa inggris itu aku sangat tidak begitu menyukainya. Karena apa? Karena lidah aku itu kurang makan keju, mudah keseleo (kayak iklan di TV aja ahahahh). Sementara itu si Indah itu sangat menyukai bahasa inggris dan salah satu siswa kesayangan sih guru itu lah. Seiring berjalanya waktu, aku dan indah saling menghapal dialog yang akan di presentasikan minggu depan. Dari situ kami banyak ngobrol satu sama lain, padahal sebelumnya aku itu jarang ngobrol sama dia. Kemudian setelah usai kami berdiaog dalam bahasa  inggris tersebut, aku mengucapkan terimakasih kepadanya karena dia telah mebantuku dalam hal itu.

“Terimakasih banyak yah ndah, sudah mau ajarin aku dialognya. Mungkin tanpa bantuanmu aku gak bakal bisa meng-hapal dialog ini” ujarku pelan pada saat duduk di kantin.
“eh, loh kok cuman terimakasih aja sih” ujarnya sambil tersenyum sedikit.
“oh, jadi ngajarin aku gak ikhlas yah. Mengharapkan hadiah pasti”. Kataku sambil menurunkan alis sebelah kiri.
“bukan, bukan gitu maksudnya nis. Maksud aku itu, kamu juga ajarin aku matematik. Kan kamu tau sendiri aku itu paling benci sama yang namanya hitung-hitungan”. Katanya sambil agak cemberut mukanya.
“oh, kamu mau aku ngajarin kau yah. Boleh boleh, sebagai ucapan terimakasih ku atas yg kemarin aku mau bantu kamu dan ngajarin kamu sampai bisa menyelesaikan soal sendiri. Tenang aja ndah”,-
“oke mulai besok kamu kerumah aku aja yah, ajarin aku nis”
“oke sipp ndah, entar aku kerumah kamu kok”
Setelah hari itu, 1 bulan berjalan aku dan indah sering jalan bareng dan makan ice cream bareng. Dari situlah, rasa aku ituh semakin bertambah nih dengan nya. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Aku semakin menyukai nya dan sikapnya itu, rasanya sangat nyaman jika aku jalan berdua dengannya. Pada hari sabtu malam aku dan indah sedang ngedate, kami jalan-jalan ke mall  lalu mencari sebuah cafe dan kami pun makan malam di cafe tersebut. Dan pada saat itulah aku mengungkapkan sekuruh rasa yg didalam hatiku kepadanya,
“ndah, kamu merasa ada hal yang aneh gak semenjak kita bersama terus ?, tanyaku”
Indah : (^_^’’), iyah emangnya kenapa nis.
Aku,..ak...aku itu suka sama kamu loh ndah, aku gak bisa ngelupain kamu. Aku selalu memikirkanmu, bayangan wajahmu selalu terlintas dipikiranku. Maaf, jika aku terlalu lancang mengatakan perasaan ini kepadamu ndah.
“eh, iyah nis. Aku juga merasakan hal yang sama kok.
Wah, aku jadi tambah semangat nih dengernya.
Jadi gimana, kamu mau gak pacaran sama aku ?
Indah terdiam sejenak ketika aku menembaknya diwaktu itu.
Ehhmmmm,.... iyah nis aku mau kok. Kita jalani bersama yah nis.
“wow, hatiku begitu senang. Andai saja ini lautan bukan mall, pasti aku bakalan menjerit sekuat mungkin dan berkata, Terimakasih indah telah menerimaku, akau mencintaimu”. Dan dari situlah, kami terus melakukan apapun itu selalu bersama. Serasa hidup ini milik kami berdua.
--Selesai--
 Mohon Maaf jika penulis masih banyak kekurangan, 1 konmu sangat berarti buat penulis.

No comments: