Monday, 7 March 2016

4 Hari sebelum menjelang Pertunangannya

Tidak pernah ada yang tau bahwa aku selalu memikirkanya, aku terlalu tersenyum pada saat dimana aku lagi mengalami keterpurukan kegagalan dalam menjalani setiap masalah ini. Aku sadar aku bukan orang yang kaya yang selalu di kejar bayak wanita masa kini. Kutulis tinta berwarna hitam pekat di kertas kosong yang masih suci dan belum ternodai sekalipun, ku luangkan waktu ku dan ku gerakan jari ku yang begitu kaku saat memegang sebuah pena bermerek kenko  itu. Segala sesuatu yang aku alami saat itu aku merasa pasrah dengan ujian yang di berikan oleh Tuhan. Ku goyang kan terus menerus jariku pada saat itu, sehingga pena yg ku genggang ibarat seperti yang ada di kata kiasan dalam bahasa indonesia “pena ku menari nari di atas kertas putih yang suci itu”. Ku pejamkan mata ku untuk sesaat dan memikirkan hal yang begitu sulit untuk aku terima pada saat itu. Mungkin ini memang sudah takdir dari yang maha kuasa. Terbentuk lah sebuah surat yang tanpa aku sadari sudah sebanyak 4 halaman penuh. Ku rangkai kata demi kata itu hanya untuk kau yang sudah berhasil mengambil hatiku pada saat itu. Lalu aku terdiam lama memandang surat yang aku buat itu, kenapa dengan ku? Aku merasa bodoh? Tak seharusnya aku begini, keheningan suasana rumah yang diiringi suara jangkrik membuatku menjadi merasa gelisah. Diam senyap tanpa suara dan kata. Seharusnya aku bersikap dewasa pada saat itu, untuk apa aku mengungkapkan isi hati ku di dalam surat itu untuk seorang gadis yang bentar lagi akan di ikat oleh kekasihnya. Kau tau nona, kau telah berhasil menarik perhatianku. Kau wanita yang hebat nona, kau tidak begitu cantik dan kau juga tak begitu pintar dalam pelajaran. Tapi aku akui kau begitu hebat telah mengalihkan perhatianku selama ini, sehingga aku selalu memikirkan mu. Aku selalu berharap lebih kepadamu. Tapi tenang aja nona, surat yang aku torehkan di kertas pada malam itu sudah menjadi sekumpulan abu yang sangat halus di depan rumahku setelah aku berfikir dan mengambil keputusan yang menurut ku begitu rumit. Mungkin cinta ku bertepuk sebelah tangan. Itu adalah 4 hari dimana kau akan di ikat dengan kekasih mu. Aku sudah ikhlas dengan jalan ini, ku jalani hari demi hari tanpa memikirkan mu nona. Awal nya emang terasa berat untuk ku, tapi seiring berjalanya waktu aku merasa hari hari ku yang sempat hilang sudah kembali bersama ku, aku berhasil membuat diriku dan mengendalikan diriku seperti dulu. Terimakasih kepadamu nona karna kau lah aku mengetahui apa arti kehidupan ini. Aku senang kau senang nona, aku juga senang melihat mu bahagia tanpa memiliki. Terimakasih juga buat temen dan sahabatku yang selama ini men-support apapun yang akan aku lakukan. Tanpa kalian aku enggak akan bisa menjalani kehidupan yang hampir punah ini.

No comments: